AMAL jariyah

Call Directions Contact the business

AMAL jariyah “Demi masa. Sungguh, manusia berada dlm kerugian, kcuali org-org yang beriman dan mengerjakan kebajikan serta saling menasehati untuk kebenaran. (QS.

Al Ashr: 1,3). Bagi yg ingin menyalurkan zakat, infaq, sedekah dan Jum'at berkah BCA no.rek 8735650455

﷽اَلسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُه┏ □■□ ━━━━━━━NASEHAT ADALAH CINTA┗━━━━━━━━━━ ●○● Nasehat adalah cin...
16/09/2026

﷽

اَلسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُه

┏ □■□ ━━━━━━━
NASEHAT ADALAH CINTA
┗━━━━━━━━━━ ●○●

Nasehat adalah cinta. Saling menasehati itu tanda cinta. Karena nasehat berarti menginginkan kebaikan pada orang lain. Kita ingin saudara kita itu jadi baik ketika dinasehati, bukan ingin mereka direndahkan atau disalahkan. Inilah dasar nasehat.

Imam Nawawi rahimahullah membawakan suatu Bab dalam kitab fenomenal beliau, yaitu kitab Riyadhus Sholihin, “Bab: Memberi Nasehat. Beliau rahimahullah membawakan beberapa dalil berikut dalam bab tersebut.

قَالَ تَعَالَى : { إِنَّمَا المُؤْمِنُونَ إخْوَةٌ } [ الحجرات : 10 ] ، وَقالَ تَعَالَى : إخباراً عن نوحٍ – صلى الله عليه وسلم – : { وَأنْصَحُ لَكُمْ } [ الأعراف : 62 ] ، وعن هود – صلى الله عليه وسلم – : { وَأنَا لَكُمْ نَاصِحٌ أمِينٌ } [ الأعراف : 68 ] .

“Sesungguhnya orang-orang beriman itu bersaudara.” (QS. Al Hujurat: 10).

“Dan aku memberi nasehat kepadamu.” (QS. Al A’raf: 62).

“Aku hanyalah pemberi nasehat yang terpercaya bagimu.” (QS. Al A’raf: 68).

Dan beberapa hadits yang dibawakan:

وأما الأحاديث : فالأول : عن أَبي رُقَيَّةَ تَمِيم بن أوس الداريِّ – رضي الله عنه – : أنَّ النَّبيّ – صلى الله عليه وسلم – ، قَالَ : (( الدِّينُ النَّصِيحةُ )) قلنا : لِمَنْ ؟ قَالَ : (( لِلهِ وَلِكِتَابِهِ وَلِرَسُولِهِ وَلأئِمَّةِ المُسْلِمِينَ وَعَامَّتِهِمْ رواه مسلم .

الثاني : عن جرير بن عبد الله – رضي الله عنه – ، قَالَ : بَايَعْتُ رسولَ الله – صلى الله عليه وسلم – عَلَى إقَامِ الصَّلاةِ ، وَإِيتَاءِ الزَّكَاةِ ، والنُّصْحِ لِكُلِّ مُسْلِمٍ . مُتَّفَقٌ عَلَيهِ .

الثالث : عن أنس – رضي الله عنه – ، عن النَّبيّ – صلى الله عليه وسلم – ، قَالَ : ( لا يُؤمِنُ أحَدُكُمْ حَتَّى يُحِبَّ لأَخِيهِ مَا يُحبُّ لِنَفْسِهِ ) مُتَّفَقٌ عَلَيهِ .

1- Dari Abu Ruqoyyah Tamim bin Aus Ad Daari radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Agama adalah nasehat.” Kami bertanya, “Untuk siapa?” Beliau menjawab, “Bagi Allah, bagi kitab-Nya, bagi rasul-Nya, bagi pemimpin-pemimpin kaum muslimin serta bagi umat Islam umumnya.” (HR. Muslim no. 55).

2- Dari Jarir bin ‘Abdillah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, “Aku pernah berbaiat (berjanji setia) pada Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam supaya menegakkan shalat, menunaikan zakat dan memberi nasehat kepada setiap muslim.” (Muttafaqun ‘alaih. HR. Bukhari no. 57 dan Muslim no. 56).

3- Dari Anas radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, “Tidaklah sempurna iman seseorang di antara kalian sampai ia mencintai saudaranya sebagaimana ia mencintai dirinya sendiri.” (Muttafaqun ‘alaih. HR. Bukhari no. 13 dan Muslim no. 45).

Lihat saja di awal bahasan bab, Imam Nawawi menyampaikan ayat bahwa setiap muslim itu bersaudara. Dan di akhir bab, beliau sampaikan hadits yang menunjukkan bahwa di antara bentuk cinta adalah menginginkan kebaikan pada orang lain sebagaimana kita ingin orang lain seperti kita. Ini menunjukkan bahwa saling menasehati itu didasarkan karena kita adalah bersaudara sehingga kita ingin agar saudara kita pun menjadi baik. Dan juga menunjukkan bahwa bentuk kasih dan sayang terhadap sesama muslim adalah dengan saling menasehati.

Maka tidaklah tepat sikap sebagian orang yang berucap, biarkan sajalah saudara kita beramal seperti itu. Padahal amalan yang dilakukan tidak ada tuntunan. Biarlah mereka jadi pengagung kubur para wali. Padahal seperti itu adalah tingkah laku orang musyrik yang Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam perangi di masanya. Jika memang benar kita mencintai saudara kita sesama muslim, maka nasehatilah mereka supaya terhindar dari syirik, bid’ah, dan berbagai macam maksiat lainnya. Karena arti nasehat -menurut para ulama- adalah menginginkan kebaikan pada orang lain. Sebagaimana kata Al Khottobi rahimahullah,

النصيحةُ كلمةٌ يُعبر بها عن جملة هي إرادةُ الخيرِ للمنصوح له

“Nasehat adalah kalimat ungkapan yang bermakna memberikan kebaikan kepada yang dinasehati” (Jami’ul ‘Ulum wal Hikam, 1: 219).

Imam Nawawi rahimahullah berkata, “Menasehati sesama muslim (selain ulil amri) berarti adalah menunjuki berbagai maslahat untuk mereka yaitu dalam urusan dunia dan akhirat mereka, tidak menyakiti mereka, mengajarkan perkara yang mereka tidak tahu, menolong mereka dengan perkataan dan perbuatan, menutupi aib mereka, menghilangkan mereka dari bahaya dan memberikan mereka manfaat serta melakukan amar ma’ruf nahi mungkar.” (Syarh Shahih Muslim, 2: 35).

Syaikh Muhammad bin Sholih Al ‘Utsaimin saat menerangkan hadits Jabir, yaitu bagaimanakah cara menasehati sesama muslim, maka beliau katakan hal itu sudah dijelaskan dalam hadits Anas: “Tidaklah sempurna iman seseorang di antara kalian sampai ia mencintai saudaranya sebagaimana ia mencintai dirinya sendiri.” Kata Syaikh Ibnu ‘Utsaimin, “Nasehat adalah engkau s**a jika saudaramu memiliki apa yang kau miliki. Engkau bahagia sebagaimana engkau ingin yang lain pun bahagia. Engkau juga merasa sakit ketika mereka disakiti. Engkau bermuamalah (bersikap baik) dengan mereka sebagaimana engkau pun s**a diperlakukan seperti itu.” (Syarh Riyadhis Sholihin, 2: 400).

Al Fudhail bin ‘Iyadh mengatakan,

المؤمن يَسْتُرُ ويَنْصَحُ ، والفاجرُ يهتك ويُعيِّرُ

“Seorang mukmin itu biasa menutupi aib saudaranya dan menasehatinya. Sedangkan orang fajir (pelaku dosa) biasa membuka aib dan menjelek-jelekkan saudaranya.” (Jaami’ul ‘Ulum wal Hikam, 1: 225).

Al Hasan Al Bashri berkata,

إنَّ أحبَّ عبادِ الله إلى الله الذين يُحببون الله إلى عباده ويُحببون عباد الله إلى الله ، ويسعون في الأرض بالنصيحة

“Sesungguhnya hamba yang dicintai di sisi Allah adalah yang mencintai Allah lewat hamba-Nya dan mencintai hamba Allah karena Allah. Di muka bumi, ia pun memberi nasehat pada orang lain.” (Jaami’ul ‘Ulum wal Hikam, 1: 224).

Semoga Allah memberikan kita sifat saling mencintai sesama dengan saling menasehati dalam kebaikan dan takwa.

➡ CC : rully
_____________

“Demi masa. Sungguh, manusia berada dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan kebajikan serta saling menasehati untuk kebenaran. (QS. Al Ashr: 1-3). Bagi yg ingin menyalurkan bantuan zakat, infaq, sedekah dan Jum'at berkah :
➡️ MNC Bank no.rek 206010007098941
➡️ DANA : 082290502735

📌 Silahkan simpan dan bagikan postingan ini sebagai pengingat dan bentuk amal jariyah berpartisipasi menyebar kebaikan 🙏

📝 AMAL jariyah

berat Sorotan orang 󰦉

﷽اَلسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُه┏ □■□ ━━━━━━━DZIKIR MUTLAK┗━━━━━━━━━━ ○○● Allah Subhanahu wa Ta’ala...
15/09/2026

﷽

اَلسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُه

┏ □■□ ━━━━━━━
DZIKIR MUTLAK
┗━━━━━━━━━━ ○○●

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

“Sesungguhnya mengingat Allah adalah lebih besar (keutamaannya dari ibadah-ibadah yang lain).” (QS. Al ‘Ankabut: 45)

“Karena itu, ingatlah kamu kepada-Ku niscaya Aku ingat (p**a) kepadamu (dengan memberikan rahmat dan pengampunan), dan bersyukurlah kepada-Ku, dan janganlah kamu mengingkari (nikmat)-Ku.” (QS. Al Baqarah: 152)

“Maka kalau Sekiranya dia (Yunus) tidak termasuk orang-orang yang banyak mengingat Allah,”– Niscaya ia akan tetap tinggal di perut ikan itu sampai hari berbangkit. (QS.Ash Shaaffaat: 143-144)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

مَثَلُ الَّذِي يَذْكُرُ رَبَّهُ وَالَّذِي لَا يَذْكُرُ رَبَّهُ مَثَلُ الْحَيِّ وَالْمَيِّتِ

“Perumpamaan orang yang mengingat Tuhannya dengan orang yang tidak mengingat Tuhannya seperti perumpamaan orang yang hidup dan orang yang mati.” (HR. Bukhari)

Dzikir terbagi dua: Dzikir Mutlak dan Dzikir Muqayyad. Dzikir Mutlak adalah dzikir yang tidak ditentukan oleh syara’ (Al Qur’an atau hadits) kapan dibacanya, maka boleh kapan saja Dzikir Mutlak dibaca selama tidak pada waktu yang seharusnya dibaca dzikir muqayyad[1]. Sedangkan Dzikir Muqayyad adalah dzikir yang ditentukan oleh syara’ kapan dibacanya seperti dzikir setelah shalat, dzikir ketika masuk masjid dan keluar masjid, dzikir memakai pakaian dan melepasnya dst.

⚉ Berikut ini kami sebutkan sebagian di antara dzikir mutlak, mudah-mudahan Allah Subhanahu wa Ta’ala memberi taufiq kepada kita untuk mengamalkannya. Allahumma aamin.

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ t قَالَ: قَالَ رَسُولُ اَللَّهِ r كَلِمَتَانِ حَبِيبَتَانِ إِلَى اَلرَّحْمَنِ, خَفِيفَتَانِ عَلَى اَللِّسَانِ, ثَقِيلَتَانِ فِي اَلْمِيزَانِ, سُبْحَانَ اَللَّهِ وَبِحَمْدِهِ , سُبْحَانَ اَللَّهِ اَلْعَظِيمِ

Abu Hurairah berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Ada dua kalimat yang dicintai Ar Rahman (Allah), ringan di lisan dan berat di timbangan yaitu “Subhaanallah wa bihamdih-subhaanalalahil ‘azhiim[2].” (HR. Bukhari dan Muslim)

▪️

عَنْ أَبِى ذَرٍّ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم سُئِلَ أَىُّ الْكَلاَمِ أَفْضَلُ قَالَ « مَا اصْطَفَى اللَّهُ لِمَلاَئِكَتِهِ أَوْ لِعِبَادِهِ سُبْحَانَ اللَّهِ وَبِحَمْدِهِ » .

Dari Abu Dzar, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah ditanya tentang kalimat yang paling utama, Beliau menjawab, “Yaitu yang Allah pilih untuk para malaikat-Nya atau para hamba-Nya; Subhaanallahi wa bihamdih.” (HR. Muslim)

▪️

عَنْ جَابِرٍ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ مَنْ قَالَ سُبْحَانَ اللَّهِ الْعَظِيمِ وَبِحَمْدِهِ غُرِسَتْ لَهُ نَخْلَةٌ فِي الْجَنَّةِ

Dari Jabir, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, Beliau bersabda, “Barangsiapa yang mengucapkan Subhaanallahil ‘azhiim wabihamdih.” Maka akan ditanamkan sebuah pohon kurma di surga.” (HR. Tirmidzi, ia berkata, “Hadits hasan.” Haitsami menyebutkan dalam Al Majma’ dan menyandarkannya kepada Al Bazzar dari hadits Abdullah bin ‘Amr, dan ia berkata, “Isnadnya jayyid.”)

▪️

>عَنْ سَمُرَةَ بْنِ جُنْدَبٍ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم « أَحَبُّ الْكَلاَمِ إِلَى اللَّهِ أَرْبَعٌ سُبْحَانَ اللَّهِ وَالْحَمْدُ لِلَّهِ وَلاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَاللَّهُ أَكْبَرُ . لاَ يَضُرُّكَ بَأَيِّهِنَّ بَدَأْتَ .

Dari Samurah bin Jundab ia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Kalimat yang paling dicintai Allah ada empat, yaitu: Subhaanallah, Al Hamdulillah, Laailaahaillallah, dan Allahu Akbar[3]. Tidak mengapa bagimu memulai dari yang mana saja.” (HR. Muslim)

▪️

عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم « لأَنْ أَقُولَ سُبْحَانَ اللَّهِ وَالْحَمْدُ لِلَّهِ وَلاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَاللَّهُ أَكْبَرُ أَحَبُّ إِلَىَّ مِمَّا طَلَعَتْ عَلَيْهِ الشَّمْسُ » .

Dari Abu Hurairah ia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sungguh, aku mengucapkan Subhaanallah, Al Hamdulillah, Laailaahaillallah, dan Allahu Akbar lebih aku s**ai dari apa yang disinari oleh matahari terbit.” (HR. Muslim)

▪️

عَنْ ابْنِ مَسْعُودٍ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَقِيتُ إِبْرَاهِيمَ لَيْلَةَ أُسْرِيَ بِي فَقَالَ يَا مُحَمَّدُ أَقْرِئْ أُمَّتَكَ مِنِّي السَّلَامَ وَأَخْبِرْهُمْ أَنَّ الْجَنَّةَ طَيِّبَةُ التُّرْبَةِ عَذْبَةُ الْمَاءِ وَأَنَّهَا قِيعَانٌ وَأَنَّ غِرَاسَهَا سُبْحَانَ اللَّهِ وَالْحَمْدُ لِلَّهِ وَلَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَاللَّهُ أَكْبَرُ

Dari Ibnu Mas’ud ia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Aku bertemu dengan Ibrahim pada malam ketika aku diisra’kan, maka ia berkata, “Wahai Muhammad, sampaikan salam dariku untuk umatmu dan beritahukan kepada mereka, bahwa surga, tanahnya bagus, airnya segar, dan ia adalah lembah-lembah, dan bahwa tanamannya adalah Subhaanallah, wal hamdulillah, walaailaahaillallah wallahu akbar.” (HR. Tirmidzi, dan dihasankan oleh Syaikh Al Albani dalam Shahihul Jaami’)

▪️

عَنْ جُوَيْرِيَةَ أَنَّ النَّبِىَّ صلى الله عليه وسلم خَرَجَ مِنْ عِنْدِهَا بُكْرَةً حِينَ صَلَّى الصُّبْحَ وَهِىَ فِى مَسْجِدِهَا ثُمَّ رَجَعَ بَعْدَ أَنْ أَضْحَى وَهِىَ جَالِسَةٌ فَقَالَ « مَا زِلْتِ عَلَى الْحَالِ الَّتِى فَارَقْتُكِ عَلَيْهَا » . قَالَتْ نَعَمْ . قَالَ النَّبِىُّ صلى الله عليه وسلم « لَقَدْ قُلْتُ بَعْدَكِ أَرْبَعَ كَلِمَاتٍ ثَلاَثَ مَرَّاتٍ لَوْ وُزِنَتْ بِمَا قُلْتِ مُنْذُ الْيَوْمِ لَوَزَنَتْهُنَّ سُبْحَانَ اللَّهِ وَبِحَمْدِهِ عَدَدَ خَلْقِهِ وَرِضَا نَفْسِهِ وَزِنَةَ عَرْشِهِ وَمِدَادَ كَلِمَاتِهِ » .

Dari Juwairiyyah, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah keluar dari sisinya pada pagi hari setelah shalat Subuh, sedangkan ia (Juwairiyyah) berada di tempat shalatnya. Setelah itu, Beliau p**ang setelah tiba waktu Duha sedangkan ia (Juwairiyyah) masih dalam keadaan duduk. Lalu Beliau bertanya, “Apakah engkau tetap dalam keadaan ketika aku tinggalkan?” Ia menjawab, “Ya.” Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sungguh, aku telah mengucapkan setelahmu 4 kalimat sebanyak tiga kali, yang jika ditimbang dengan yang engkau ucapkan sejak tadi tentu akan menyamai timbangannya, yaitu Subhaanallahi wabihamdih ‘adada khalqihi wa ridhaa nafsih wa zinata ‘arsyih[4].” (HR. Muslim)

▪️

عَنْ أَبِيْ أَيُّوْبٍ عَنِ النَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم قَالَ « مَنْ قَالَ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيكَ لَهُ لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَىْءٍ قَدِيرٌ عَشْرَ مِرَارٍ كَانَ كَمَنْ أَعْتَقَ أَرْبَعَةَ أَنْفُسٍ مِنْ وَلَدِ إِسْمَاعِيلَ »

Dari Abu Ayyub dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, ia berkata: “Barangsiapa mengucapkan “Laailaahaillallah wahdahuu laa syariika lah lahul mulku walahul hamdu wa huwa alaa kulli syai’in qadiir.[5]” 10 x, maka ia seperti memerdekakan 4 orang keturunan Nabi Isma’il.” (HR. Bukhari-Muslim)

▪️

عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم قَالَ « مَنْ قَالَ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيكَ لَهُ لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَىْءٍ قَدِيرٌ . فِى يَوْمٍ مِائَةَ مَرَّةٍ . كَانَتْ لَهُ عَدْلَ عَشْرِ رِقَابٍ وَكُتِبَتْ لَهُ مِائَةُ حَسَنَةٍ وَمُحِيَتْ عَنْهُ مِائَةُ سَيِّئَةٍ وَكَانَتْ لَهُ حِرْزًا مِنَ الشَّيْطَانِ يَوْمَهُ ذَلِكَ حَتَّى يُمْسِىَ وَلَمْ يَأْتِ أَحَدٌ أَفْضَلَ مِمَّا جَاءَ بِهِ إِلاَّ أَحَدٌ عَمِلَ أَكْثَرَ مِنْ ذَلِكَ . وَمَنْ قَالَ سُبْحَانَ اللَّهِ وَبِحَمْدِهِ فِى يَوْمٍ مِائَةَ مَرَّةٍ حُطَّتْ خَطَايَاهُ وَلَوْ كَانَتْ مِثْلَ زَبَدِ الْبَحْرِ » .

Dari Abu Hurairah, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Barangsiapa yang mengucapkan “Laailaahaillallah wahdahuu laa syariika lah lahul mulku walahul hamdu wa huwa alaa kulli syai’in qadiir,” dalam sehari seratus kali, maka hal itu sama seperti memerdekakan sepuluh orang budak, akan dicatat untuknya seratus kebaikan dan akan dihapuskan darinya seratus keburukan, dan ia akan dijaga dari setan pada hari itu sampai sore hari, dan tidak ada seorang pun yang datang membawa sesuatu yang lebih baik daripada yang ia bawa kecuali seorang yang mengerjakan lebih dari itu. Dan barangsiapa mengucapkan Subhaanallah wabihamdih dalam sehari seratus kali, maka akan digugurkan kesalahannya meskipun sebanyak buih di laut.” (HR. Muslim)

▪️

عَنْ جَابِرِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا قَالَ سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ أَفْضَلُ الذِّكْرِ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَأَفْضَلُ الدُّعَاءِ الْحَمْدُ لِلَّهِ

Dari Jabir bin Abdillah radhiyallahu ‘anhu ia berkata: Aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Dzikir yang paling utama adalah Laailaahaillallah dan doa yang paling utama adalah Al Hamdulillah.” (Hadits hasan, diriwayatkan oleh Tirmidzi, lihat Ash Shahiihah (1497)).

▪️

عَنْ سَعْدِ بْنِ أَبِي وَقَّاصٍ قَالَ جَاءَ أَعْرَابِىٌّ إِلَى رَسُولِ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم فَقَالَ عَلِّمْنِى كَلاَمًا أَقُولُهُ قَالَ « قُلْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيكَ لَهُ اللَّهُ أَكْبَرُ كَبِيرًا وَالْحَمْدُ لِلَّهِ كَثِيرًا سُبْحَانَ اللَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ لاَ حَوْلَ وَلاَ قُوَّةَ إِلاَّ بِاللَّهِ الْعَزِيزِ الْحَكِيمِ » . قَالَ فَهَؤُلاَءِ لِرَبِّى فَمَا لِى قَالَ « قُلِ اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِى وَارْحَمْنِى وَاهْدِنِى وَارْزُقْنِى » .

Dari Sa’ad bin Abi Waqqash ia berkata: Ada seorang Arab baduwi datang kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan berkata, “Ajarilah aku suatu kalimat.” Beliau bersabda, “Ucapkanlah, ““Laailaahaillallah wahdahuu laa syariika lah, Allahu akbar, wal hamdulillahi katsiiraa, subhaanallahi Rabbil ‘aalamiin, laa haula walaa quwwata illaa billahil ‘aziizil hakiim[6].” Ia (orang Arab baduwi) itu berkata, “Itu untuk Tuhanku, lalu untuk aku apa?” Beliau bersabda, “Ucapkanlah, “Allahummagh firlii war hamnii wahdinii warzuqnii[7].” (HR. Muslim)

▪️

عَنْ سَعْدِ بْنِ أَبِي وَقَّاصٍ قَالَ كُنَّا عِنْدَ رَسُولِ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم فَقَالَ « أَيَعْجِزُ أَحَدُكُمْ أَنْ يَكْسِبَ كُلَّ يَوْمٍ أَلْفَ حَسَنَةٍ » . فَسَأَلَهُ سَائِلٌ مِنْ جُلَسَائِهِ كَيْفَ يَكْسِبُ أَحَدُنَا أَلْفَ حَسَنَةٍ قَالَ « يُسَبِّحُ مِائَةَ تَسْبِيحَةٍ فَيُكْتَبُ لَهُ أَلْفُ حَسَنَةٍ أَوْ يُحَطُّ عَنْهُ أَلْفُ خَطِيئَةٍ » .

Dari Sa’ad bin Abi Waqqash ia berkata: Kami pernah berada di dekat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, lalu Beliau bersabda, “Apakah salah seorang di antara kamu merasa kesulitan untuk mengerjakan 1000 kebaikan setiap hari?” Lalu di antara yang duduk ada yang bertanya, “Bagaimana salah seorang di antara kami dapat mengerjakan 1000 kebaikan?” Beliau bersabda, “Yaitu ia bertasbih (mengucapkan subhaanallah) seratus kali, maka akan dicatat 1000 kebaikan atau digugurkan 1000 kesalahan.” (HR. Muslim)

▪️

عَنْ أَبِي مُوسَى اَلْأَشْعَرِيِّ t قَالَ: قَالَ لِي رَسُولُ اَللَّهِ r يَا عَبْدَ اَللَّهِ بْنَ قَيْسٍ! أَلَّا أَدُلُّكَ عَلَى كَنْزٍ مِنْ كُنُوزِ اَلْجَنَّةِ? لَا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ إِلَّا بِاَللَّهِ.

Dari Abu Musa Al Asy’ariy, ia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda kepadaku, “Wahai Abdullah bin Qais, maukah kamu aku tunjukkan salah satu dari sekian perbendaharaan surga? Yaitu Laa haula wa laa quwwata illaa billah.” (HR. Bukhari dan Muslim)

▪️

عَنْ أَبِي سَعِيْدٍ الْخُدْرِيِّ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ مَنْ قَالَ رَضِيتُ بِاللَّهِ رَبًّا وَبِالْإِسْلَامِ دِينًا وَبِمُحَمَّدٍ رَسُولًا وَجَبَتْ لَهُ الْجَنَّةُ

Dari Abu Sa’id Al Khudriy radhiyallahu ‘anhu, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Barangsiapa yang mengucapkan, “Radhiitu billahi rabba wa bil Islaami diina wa bimuhammadir rasuulaa[8],” maka surga wajib baginya.” (HR. Abu Dawud, para perawinya tsiqah, dan dishahihkan oleh Ibnu Hibban dan Hakim)

Faedah:

عَنْ يُسَيْرَةَ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَمَرَهُنَّ أَنْ يُرَاعِينَ بِالتَّكْبِيرِ وَالتَّقْدِيسِ وَالتَّهْلِيلِ وَأَنْ يَعْقِدْنَ بِالْأَنَامِلِ فَإِنَّهُنَّ مَسْئُولَاتٌ مُسْتَنْطَقَاتٌ

Dari Yusairah, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan mereka memperhatikan takbir, taqdis (tasbih), dan tahlil (ucapan laailaahaillallah), serta memerintahkan mereka menghitungnya dengan jari, karena jari itu akan ditanya dan diminta berbicara.” (HR. Abu Dawud dan Tirmidzi)

▪️

عَنْ عَبْدِ اللهِ بْنِ عُمَرَ قَالَ: رَأَيْتُ النَّبِيَّ يَعْقِدُ التَّسْبِيْحَ بِيَمِيْنِهِ

Dari Abdullah bin Umar ia berkata: Aku melihat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menghitung tasbih dengan tangan kanannya.” (HR. Abu Dawud dengan lafaznya 2/81, Tirmidzi 5/521, dan lihat Shahihul Jami’ 4/271, no. 4865)

Wallahu a’lam, wa shallallahu ‘ala Muhammad wa ‘alaa aalihi wa shahbihi wa sallam.

Marwan bin Musa

------------

BEBERAPA DZIKIR YANG BISA DIRUTINKAN SETIAP HARI

Berikut ini adalah beberapa kalimat dzikir mutlak yang tidak terbatas oleh jumlah dan waktu..

sehingga bisa kita rutinkan dan baca berulang-ulang setiap saat..

- baik saat kita berada di rumah, di kantor, di sekolah..

- saat kita mengemudi kendaraan..

- saat kita berada di kendaraan/transportasi umum seperti bis, kereta, pesawat, becak dll.. dan

- saat menunggu waktu buka puasa, saat menunggu dokter, vaksin dll..

● subhaanallaah, walhamdulillaah, walaa illaaha illallaah, wallaahu akbar.. (HR. Muslim, at-Tirmidzi dan lainnya)

● subhaanallaah 100 kali, alhamdulillaah 100 kali, Allaahu akbar 100 kali, laa ilaaha illallaah 100 kali.. (HR. Ahmad 6/344)

● subhaanallaahil ‘azhiimi wabi hamdih.. (HR. at-Tirmidzi)

● subhaanallaahi wabi hamdih, subhaanallaahil ‘azhiim.. (HR. Bukhori dan Muslim)

● laa hawla walaa quwwata illaa billaah.. (HR. Ahmad)

● Allaahumma sholli wa sallim ‘alaa Muhammad.. (Qs. Al Ahzab – 56)

● Astaghfirullaahal ‘azhiim alladzii laa ilaaha illaa huwal hayyul qoyyuum wa atuubu ilayhi.. (HR. at-Tirmidzi)

● Astaghfirullaah wa atuubu ilayhi.. (HR. Ibnu Majah)

● Hasbunallaahu wani’mal wakiil ‘alallaahi tawakkalnaa.. (HR. at-Tirmidzi)

Dalam sebuah hadits qudsi, Rosulullaah shollallaahu ‘alayhi wa sallam bersabda,

“Allaah Subhaanahu wa Ta’ala berfirman, “Aku bersama hamba-Ku selama ia mengingat-Ku, selagi dua bibirnya bergerak mengingat-Ku..”

(HR. Ahmad 2 – 540, Ibnu Majah 3792, dan dinilai shohiih oleh al-Albani dalam Shohiih Ibni Majah, no. 93792)

semoga Allaah ‘Azza Wajalla memberikan kemudahan untuk mengamalkan dan merutinkan dzikir dan do’a diatas setiap hari..

➡ CC : rully
_____________

“Demi masa. Sungguh, manusia berada dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan kebajikan serta saling menasehati untuk kebenaran. (QS. Al Ashr: 1-3). Bagi yg ingin menyalurkan bantuan zakat, infaq, sedekah dan Jum'at berkah :
➡️ MNC Bank no.rek 206010007098941
➡️ DANA : 082290502735

📌 Silahkan simpan dan bagikan postingan ini sebagai pengingat dan bentuk amal jariyah berpartisipasi menyebar kebaikan 🙏

📝 AMAL jariyah

berat Sorotan orang 󰦉

﷽ اَلسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُه┏ □■□ ━━━━━━━PERBAIKI HUBUNGANMU DENGAN ALLAH, ALLAH AKAN PERBAIKI...
15/09/2026

﷽

اَلسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُه

┏ □■□ ━━━━━━━
PERBAIKI HUBUNGANMU DENGAN ALLAH, ALLAH AKAN PERBAIKI HUBUNGANMU DENGAN MANUSIA
┗━━━━━━━━━━ ●○●

Abdullah bin Aun berkata bahwa Salafush Shalih terdahulu apabila bertemu mereka saling berwasiat dan apabila mereka tidak bertemu mereka sering menulis tiga perkara yang sangat penting.

Pertama:

وَمَنْ عَمِلَ لِآخِرَتِهِ كَفَاهُ اللَّهُ أَمْرَ دُنْيَاهُ

“Siapa yang ia lebih fokus terhadap kehidupan akhiratnya (yang ia beramal untuk kehidupan akhiratnya), maka Allah akan cukupkan urusan dunianya”

Kedua:

مَنْ أَصْلَحَ سَرِيرَتَهُ أَصْلَحَ اللَّهُ عَلَانِيَتَهُ

“Siapa yang memperbaiki batinnya, Allah akan perbaiki lahirnya.”

Ketiga:

وَمَنْ أَصْلَحَ مَا بَيْنَهُ وَبَيْنَ اللَّهِ أَصْلَحَ اللَّهُ مَا بَيْنَهُ وَبَيْنَ النَّاسِ

“Siapa yang memperbaiki hubungan ia dengan Allah, Allah akan perbaiki hubungan ia dengan manusia.”

Sungguh tiga perkara yang agung, saudaraku.

■ PERTAMA: SIAPA YANG LEBIH FOKUS UNTUK KEHIDUPAN AKHIRATNYA, MAKA ALLAH AKAN CUKUPKAN URUSAN DUNIANYA

Artinya hatinya hanya mengharapkan kehidupan akhirat. Bahkan ketika ia melaksanakan aktivitas dunia pun yang ia harapkan adalah akhirat berupa pahala di sisi Allah Subhanahu wa Ta’ala. Di hatinya ia mengharapkan pahala dari setiap aktivitas-aktivitasnya. Ia berusaha untuk mengejar akhiratnya karena ia tahu dunia hanyalah perkara yang hina dan fana, tidak akan kekal selamanya. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda dalam hadits yang dikeluarkan oleh Imam At-Tirmidzi:

مَنْ كَانَ هَمُّهُ الْآخِرَةَ ؛ جَـمَعَ اللهُ شَمْلَهُ، وَجَعَلَ غِنَاهُ فِـيْ قَلْبِه ِ، وَأَتَتْهُ الدُّنْيَا وَهِيَ رَاغِمَةٌ،

"Siapa yang keinginan dia hanyalah kehidupan akhirat saja, Allah akan kokohkan urusannya, dan Allah akan jadikan kekayaan itu ada di hatinya, dan dunia akan mendatanginya dalam keadaan hina dimatanya.” (HR. Tirmidzi)

Subhanallah, orang yang menginginkan dan di hatinya keinginan yang terbesar adalah kehidupan akhirat, Allah berikan tiga perkara kepadanya; (1) Allah kokohkan urusan dia. Artinya ia akan bisa istiqomah, ia akan bisa tegar dalam menghadapi berbagai macam ujian dan cobaan dalam kehidupan dunia ini. Sehingga aa kuat dalam menghadapi itu semuanya. (2) Allah jadikan hatinya kaya. Ia penuh qana’ah, ia merasa cukup dengan yang ada, ia menjadi orang-orang yang zuhud dalam kehidupan dunia. (3) Allah akan jadikan dunia mendatanginya dalam keadaan dunia itu hina di matanya.

Demikianlah, saudaraku. Setiap orang yang menginginkan kehidupan akhirat, dunia bersamanya. Tapi orang yang menginginkan dunia, akhirat tidak bersama dia.

Kita lihat, orang-orang yang mencari dunia, yang mencintai dunia, yang hatinya hanya menginginkan kehidupan dunia, ia berpaling dari kehidupan akhirat, ia senantiasa berusaha lari dari perintah Allah, bahkan mereka meremehkan syariat Allah. Tapi orang yang menginginkan akhirat, ia tetap diberikan oleh Allah dunia, Allah berikan kepadanya nikmat dunia, bahkan nikmat dunia itu tidak mengurangi pahala ia nanti diakhiratnya.

Sungguh orang yang menginginkan kehidupan akhirat, dia tidak akan pernah bersedih disaat ia kehilangan dunia. Ketika ia terluput dari dunia, ia pun tidak menyesal. Yang ia sesali ketika ia terluput dari pada amalan kehidupan akhirat. Disaat ia terluput dari shalat tahajud ia menyesal, disaat ia terluput dari kebaikan, dia menyesal. Karena yang ia inginkan adalah kehidupan akhiratnya.

■ KEDUA: SIAPA YANG MEMPERBAIKI BATINNYA, MAKA ALLAH AKAN PERBAIKI LAHIRNYA

Orang yang memperbaiki batinnya/hatinya -rahasianya dengan Allah-, pasti Allah akan perbaiki lahirnya. Dimana ia berusaha berpikir bagaimana membeningkan hatinya dari berbagai macam perkara yang bisa menghancurkan agamanya. Ia bersihkan dari kesyirikan, ia bersihkan dari mengagungkan selain Allah, ia bersihkan hatinya dari penyakit-penyakit yang bisa merusak; penyakit syahwat, penyakit syubhat, penyakit dengki dan kesombongan, penyakit-penyakit yang lainnya yang tentunya mengakibatkan ia tidak selamat dalam kehidupan akhiratnya. Maka ia berusaha memperhatikan tentang kebaikan dan kebeningan hatinya. Karena itulah perkara yang akan bisa bermanfaat nanti pada hari kiamat. Allah Ta’ala berfirman:

يَوْمَ لَا يَنفَعُ مَالٌ وَلَا بَنُونَ ﴿٨٨﴾ إِلَّا مَنْ أَتَى اللَّـهَ بِقَلْبٍ سَلِيمٍ ﴿٨٩﴾

“Pada hari kiamat tidak akan bermanfaat harta dan anak-anak, kecuali orang yang datang kepada Allah membawa hati yang selamat.” (QS. Asy-Syu’ara[26]: 88-89)

Iya, hati yang selamat dari pada cinta dunia yang berlebihan, hati yang selamat dari mengagungkan selain Allah, hati yang selamat dari pada mengikuti syahwat dan hawa nafsu. Merekalah yang akan selamat nanti pada hari kiamat. Karena keselamatan kita di hari kiamat tergantung keselamatan hati kita, saudaraku.

Maka saudaraku, siapa yang memperbaiki rahasianya, hatinya, batinnya, maka Allah akan perbaiki lahirnya. Ia akan terlihat dari matanya menunjukkan rasa takut ia kepada Allah, akan terlihat dari lisannya tak berucap kecuali apa yang diridhai oleh Allah, dari perbuatannya tidaklah berbuat kecuali apa yang Allah Subhanahu wa Ta’ala ridhai untuknya. Karena ia tahu bahwa Allah mengetahui setiap gerak-geriknya. Sehingga akhirnya rasa takut pun tumbuh di hatinya.

Maka berusahalah sibuk memperbaiki hati kita, niscaya Allah akan perbaiki amalan kita. Berusahalah kita untuk memperbaiki rahasia kita disaat kita sendirian, disaat tidak ada manusia yang mengetahui, disaat kita sendirian di kamar kita, kita pun kemudian menjadi hamba yang bertakwa kepada Allah, maka Allah akan menjadikan kita baik di hadapan manusia.

Kemudian perkara yang ketiga yang para Salaf terdahulu saling berwasiat sesama mereka, yaitu:

■ KETIGA: SIAPA YANG MEMPERBAIKI HUBUNGAN DENGAN ALLAH, MAKA ALLAH AKAN PERBAIKI HUBUNGANNYA DENGAN MANUSIA

Memperbaiki hubungan dengan Allah yaitu dengan cara memperbaiki ibadah kita kepada Allah, memperbaiki kekhusyuan dalam shalat kita, memperbaiki lurusnya ibadah kita. Kita berusaha supaya hati kita selalu mengingat Allah.

Orang yang memperbaiki dzikirnya, pasti Allah akan selalu ingat kepadanya, sebagaimana Allah berfirman:

فَاذْكُرُونِي أَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوا لِي وَلَا تَكْفُرُونِ ﴿١٥٢﴾

“Karena itu, ingatlah kamu kepada-Ku niscaya Aku ingat (p**a) kepadamu, dan bersyukurlah kepada-Ku, dan janganlah kamu mengingkari (nikmat)-Ku.” (QS. Al-Baqarah[2]: 152)

Apabila Allah ingat kepada kita, pasti Allah akan berikan kepada kepada kita berbagai macam bantuan dan pertolonganNya. Maka siapa yang memperbaiki hubungannya dengan Allah, Allah akan perbaiki hubunganNya dengan manusia.

Memperbaiki hubungan dengan Allah dengan menumbuhkan rasa cinta kita kepada Allah, kita mencintai apa yang Allah cintai, kita mencintai Allah melebihi segala-galanya, menumbuhkan rasa takut kita kepada Allah, Allah sangat kita takuti bahkan ketika kita sendiri kita takut untuk memaksiati Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Memperbaiki hubungan kita dengan Allah dengan cara kita bertawakal kepada Allah, menyerahkan seluruh urusan kita kepada Allah, kita hanya berdo’a kepadaNya, kita hanya berharap kepada Allah, kita tidak berharap kepada manusia.

Kita perbaiki hubungan kita dengan Allah dengan cara kita banyak bertobat dan istighfar kepadaNya, memohon ampunan akan dosa-dosa kita. Karena manusia pasti tak lepas dari dosa. Ia perbaiki hubungannya dengan Allah.

Maka siapa yang memperbaiki hubungan dia dengan Allah, Allah akan perbaiki hubungannya dengan manusia. Dijadikan hati-hati manusia mencintainya. Sebagaimana disebutkan dalam hadits, apabila Allah mencintai seorang hamba, Allah akan memanggil Jibril dan Allah berfirman, “Wahai Jibril, sesungguhnya aku mencintai si Fulan, maka cintailah ia.” Lalu Jibril pun mengumumkan di seluruh makhluk yang ada di langit sana, “Wahai penduduk langit, sesungguhnya si Fulan dicintai oleh Allah, maka cintailah ia” lalu kemudian diterimalah penerimaan di muka bumi ini.

Maka, saudaraku..

Tidak perlu kita memikirkan cinta manusia kepada kita. Karena manusia hatinya berbeda-beda. Hari ini dia bisa cinta kepada kita, entah besok dia akan benci kepada kita. Sedangkan apabila Allah cinta kepada kita, Allah mampu menjadikan hati manusia mencintai kita.

Maka perbaikilah hubungan kita dengan Allah, perbaikilah hubungan kita dengan Yang Maha Kuasa dengan cara ibadah kepadaNya. Maka itulah kebaikan.

➡ CC : rully
_____________

“Demi masa. Sungguh, manusia berada dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan kebajikan serta saling menasehati untuk kebenaran. (QS. Al Ashr: 1-3). Bagi yg ingin menyalurkan bantuan zakat, infaq, sedekah dan Jum'at berkah :
➡️ MNC Bank no.rek 206010007098941
➡️ DANA : 082290502735

📌 Silahkan simpan dan bagikan postingan ini sebagai pengingat dan bentuk amal jariyah berpartisipasi menyebar kebaikan 🙏

📝 AMAL jariyah

berat Sorotan orang 󰦉

﷽اَلسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُه┏ □■□ ━━━━━━━BERIMAN TERHADAP DATANGNYA KEMATIAN┗━━━━━━━━━━ ○○● Ter...
15/09/2026

﷽

اَلسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُه

┏ □■□ ━━━━━━━
BERIMAN TERHADAP DATANGNYA KEMATIAN
┗━━━━━━━━━━ ○○●

Terdapat beberapa hal yang berkaitan dengan keimanan kita terhadap kematian.

■ Pertama, kematian itu pasti datang

Kita harus meyakini bahwa siapa saja yang ada di dunia ini, baik penghuni langit dan bumi, baik manusia, jin, dan malaikat, dan makhluk Allah Ta’ala lainnya, pasti akan menjumpai kematian. Allah Ta’ala berfirman,

كُلُّ شَيْءٍ هَالِكٌ إِلَّا وَجْهَهُ

“Tiap-tiap sesuatu pasti binasa, kecuali Allah.” (QS. Al-Qashash: 88)

Allah Ta’ala berfirman,

كُلُّ نَفْسٍ ذَآئِقَةُ الْمَوْتِ

“Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati.” (QS. Ali ‘Imran: 185)

Dari sahabat Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma, beliau mengatakan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pernah berdoa,

أَعُوذُ بِعِزَّتِكَ الَّذِي لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ الَّذِي لَا يَمُوتُ وَالْجِنُّ وَالْإِنْسُ يَمُوتُونَ

“A’UUDZU BI’IZZATILLAHILLLADZII LAA ILAAHA ILLAA ANTAL LADZII LAA YAMUUTU WAL JINNU WAL INSU YAMUUTUUNA (Saya berlindung dengan kekuasaan-Mu yang tiada sesembahan yang hak selain Engkau, yang tidak pernah mati, sedangkan jin dan manusia pasti akan mati).” (HR. Bukhari no. 7383 dan Muslim no. 2717)

■ Kedua, ajal manusia sudah ditentukan, tidak akan lebih lama dan tidak akan lebih cepat

Allah Ta’ala berfirman,

وَلِكُلِّ أُمَّةٍ أَجَلٌ فَإِذَا جَاء أَجَلُهُمْ لاَ يَسْتَأْخِرُونَ سَاعَةً وَلاَ يَسْتَقْدِمُونَ

“Tiap-tiap umat mempunyai batas waktu. Apabila telah datang waktunya, mereka tidak dapat mengundurkannya barang sesaatpun dan tidak dapat (p**a) memajukannya.” (QS. Al-A’raf: 34)

Allah Ta’ala berfirman,

وَهُوَ الَّذِي يَتَوَفَّاكُم بِاللَّيْلِ وَيَعْلَمُ مَا جَرَحْتُم بِالنَّهَارِ ثُمَّ يَبْعَثُكُمْ فِيهِ لِيُقْضَى أَجَلٌ مُّسَمًّى ثُمَّ إِلَيْهِ مَرْجِعُكُمْ ثُمَّ يُنَبِّئُكُم بِمَا كُنتُمْ تَعْمَلُونَ

“Dan Dialah yang menidurkan kamu di malam hari dan Dia mengetahui apa yang kamu kerjakan di siang hari, kemudian Dia membangunkan kamu pada siang hari untuk disempurnakan umur(mu) yang telah ditentukan. Kemudian kepada Allahlah kamu kembali, lalu Dia memberitahukan kepadamu apa yang dahulu kamu kerjakan.” (QS. Al-An’am: 60)

Dari ‘Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu, dia berkata, “Ummu Habibah -istri Rasulullah- pernah berdoa sebagai berikut, ‘Ya Allah, berikanlah aku kenikmatan (panjangkanlah usiaku) bersama suamiku, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, ayahku Abu Sufyan, dan saudaraku Mu’awiyah.’”

Mendengar doa itu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berkata kepada istrinya Ummu Habibah radhiyallahu ‘anha,

قَدْ سَأَلْتِ اللهَ لِآجَالٍ مَضْرُوبَةٍ، وَأَيَّامٍ مَعْدُودَةٍ، وَأَرْزَاقٍ مَقْسُومَةٍ، لَنْ يُعَجِّلَ شَيْئًا قَبْلَ حِلِّهِ، أَوْ يُؤَخِّرَ شَيْئًا عَنْ حِلِّهِ، وَلَوْ كُنْتِ سَأَلْتِ اللهَ أَنْ يُعِيذَكِ مِنْ عَذَابٍ فِي النَّارِ، أَوْ عَذَابٍ فِي الْقَبْرِ، كَانَ خَيْرًا وَأَفْضَلَ

“Sesungguhnya kamu memohon kepada Allah ajal, kematian, dan rezeki yang telah ditentukan. Allah tidak akan mengajukan ataupun memundurkan sebelum waktunya. Apabila kamu memohon kepada Allah agar Dia menyelamatkanmu dari siksa neraka dan siksa kubur, maka hal itu lebih baik bagimu dan lebih utama.” (HR. Muslim no. 2663)

Adapun makna dari sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam,

مَنْ سَرَّهُ أَنْ يُبْسَطَ لَهُ فِي رِزْقِهِ أَوْ يُنْسَأَ لَهُ فِي أَثَرِهِ فَلْيَصِلْ رَحِمَه

“Siapa yang ingin diluaskan rezekinya atau dipanjangkan umurnya, hendaklah dia menyambung silaturahim.” (HR. Bukhari no. 2067 dan Muslim no. 2557)

adalah “keberkahan dalam amal dan waktu”. Sehingga seseorang bisa mengerjakan banyak amal saleh di waktu yang sebentar (sedikit).

■ Ketiga, beriman bahwa tidak ada satu pun makhluk yang mengetahui kapan datangnya waktu kematian

Waktu datangnya kematian termasuk bagian dari ilmu gaib yang hanya diketahui oleh Allah Ta’ala. Maka, tidak ada yang mengetahui kapankah kematian menjemputnya, kecuali Allah Ta’ala semata. Allah Ta’ala berfirman,

وَعِندَهُ مَفَاتِحُ الْغَيْبِ لاَ يَعْلَمُهَا إِلاَّ هُوَ وَيَعْلَمُ مَا فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ وَمَا تَسْقُطُ مِن وَرَقَةٍ إِلاَّ يَعْلَمُهَا وَلاَ حَبَّةٍ فِي ظُلُمَاتِ الأَرْضِ وَلاَ رَطْبٍ وَلاَ يَابِسٍ إِلاَّ فِي كِتَابٍ مُّبِينٍ

“Dan pada sisi Allahlah kunci-kunci semua yang gaib. Tidak ada yang mengetahuinya, kecuali Dia sendiri. Dia mengetahui apa yang di daratan dan di lautan. Dan tiada sehelai daun pun yang gugur, melainkan Dia mengetahuinya (p**a). Dan tidak jatuh sebutir biji pun dalam kegelapan bumi, dan tidak sesuatu yang basah atau yang kering, melainkan tertulis dalam kitab yang nyata (Lauh Mahfudz).” (QS. Al-An’am: 59)

Allah Ta’ala berfirman,

وَمَا تَدْرِي نَفْسٌ بِأَيِّ أَرْضٍ تَمُوتُ

“Dan tiada seorang pun yang dapat mengetahui di bumi mana dia akan mati.” (QS. Luqman: 34)

■ Keempat, memperbanyak mengingat kematian dan menjadikan kematian itu ada di depan matanya

Sebagaimana sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam,

أَكْثِرُوا ذِكْرَ هَاذِمِ اللَّذَّاتِ

“Perbanyaklah mengingat penghancur kelezatan (yaitu, kematian).” (HR. Tirmidzi no. 3207, An-Nasa’i no. 1824, dan Ibnu Majah no. 4258, dinilai sahih oleh Al-Albani)

■ Kelima, mempersiapkan diri sebelum datangnya kematian

Seorang mukmin hendaknya mempersiapkan dirinya sebelum datangnya kematian, dan juga mempersiapkan dirinya dengan hal-hal setelah kematian, baik azab atau nikmat kubur, hari kiamat, dan seterusnya. Allah Ta’ala berfirman,

حَتَّى إِذَا جَاء أَحَدَهُمُ الْمَوْتُ قَالَ رَبِّ ارْجِعُونِ لَعَلِّي أَعْمَلُ صَالِحاً فِيمَا تَرَكْتُ كَلَّا إِنَّهَا كَلِمَةٌ هُوَ قَائِلُهَا وَمِن وَرَائِهِم بَرْزَخٌ إِلَى يَوْمِ يُبْعَثُونَ

“(Demikianlah keadaan orang-orang kafir itu), hingga apabila datang kematian kepada seseorang dari mereka, dia berkata, ‘Ya Tuhanku kembalikanlah aku (ke dunia), agar aku berbuat amal yang saleh terhadap yang telah aku tinggalkan.’ Sekali-kali tidak. Sesungguhnya itu adalah perkataan yang diucapkannya saja. Dan di hadapan mereka ada dinding sampal hari mereka dibangkitkan.” (QS. Al-Mu’minuun: 99-100)

Allah Ta’ala berfirman,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَلْتَنظُرْ نَفْسٌ مَّا قَدَّمَتْ لِغَدٍ

“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat).” (QS. Al-Hasyr: 18)

Demikian, semoga bermanfaat.

***

Penulis: M. Saifudin Hakim

-------------

KEMATIAN YANG KEMBALI MENYADARKAN KITA

Belia, muda, maupun tua tidak ada yang tahu, mereka pun bisa merasakan kematian. Setahun yang silam, kita barangkali melihat saudara kita dalam keadaan sehat bugar, ia pun masih muda dan kuat. Namun hari ini ternyata ia telah pergi meninggalkan kita. Kita pun tahu, kita tidak tahu kapan maut menjemput kita. Entah besok, entah lusa, entah kapan. Namun kematian sobat kita, itu sudah cukup sebagai pengingat, yang menyadarkan dari kelalaian kita. Bahwa kita pun akan sama dengannya, akan kembali pada Allah. Dunia akan kita tinggalkan di belakang. Dunia hanya sebagai lahan mencari bekal. Alam akhiratlah tempat akhir kita.

Sungguh kematian dari orang sekeliling kita banyak menyadarkan kita. Oleh karenanya, kita diperingatkan untuk banyak-banyak mengingat mati. Dan faedahnya amat banyak. Kami mengutarakan beberapa di antaranya kali ini.

■ Dianjurkan untuk mengingat mati dan mempersiapkan diri menghadap kematian …

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

أَكْثِرُوا ذِكْرَ هَاذِمِ اللَّذَّاتِ

“Perbanyaklah mengingat pemutus kelezatan” (HR. An Nasai no. 1824, Tirmidzi no. 2307 dan Ibnu Majah no. 4258 dan Ahmad 2: 292. Hadits ini hasan shahih menurut Syaikh Al Albani). Yang dimaksud adalah kematian. Kematian disebut haadzim (pemutus) karena ia menjadi pemutus kelezatan dunia.

عَنِ ابْنِ عُمَرَ أَنَّهُ قَالَ : كُنْتُ مَعَ رَسُولِ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- فَجَاءَهُ رَجُلٌ مِنَ الأَنْصَارِ فَسَلَّمَ عَلَى النَّبِىِّ -صلى الله عليه وسلم- ثُمَّ قَالَ : يَا رَسُولَ اللَّهِ أَىُّ الْمُؤْمِنِينَ أَفْضَلُ قَالَ : « أَحْسَنُهُمْ خُلُقًا ». قَالَ فَأَىُّ الْمُؤْمِنِينَ أَكْيَسُ قَالَ : « أَكْثَرُهُمْ لِلْمَوْتِ ذِكْرًا وَأَحْسَنُهُمْ لِمَا بَعْدَهُ اسْتِعْدَادًا أُولَئِكَ الأَكْيَاسُ ».

Dari Ibnu ‘Umar, ia berkata, “Aku pernah bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, lalu seorang Anshor mendatangi beliau, ia memberi salam dan bertanya, “Wahai Rasulullah, mukmin manakah yang paling baik?” Beliau bersabda, “Yang paling baik akhlaknya.” “Lalu mukmin manakah yang paling cerdas?”, ia kembali bertanya. Beliau bersabda, “Yang paling banyak mengingat kematian dan yang paling baik dalam mempersiapkan diri untuk alam berikutnya, itulah mereka yang paling cerdas.” (HR. Ibnu Majah no. 4259. Hasan kata Syaikh Al Albani).

■ Wahai diri ini yang lalai akan kematian, ingatlah faedah mengingat kematian …

[1] Mengingat kematian adalah termasuk ibadah tersendiri, dengan mengingatnya saja seseorang telah mendapatkan ganjaran karena inilah yang diperintahkan oleh suri tauladan kita, Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam.

[2] Mengingat kematian membantu kita dalam khusyu’ dalam shalat. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

اذكرِ الموتَ فى صلاتِك فإنَّ الرجلَ إذا ذكر الموتَ فى صلاتِهِ فَحَرِىٌّ أن يحسنَ صلاتَه وصلِّ صلاةَ رجلٍ لا يظن أنه يصلى صلاةً غيرَها وإياك وكلَّ أمرٍ يعتذرُ منه

“Ingatlah kematian dalam shalatmu karena jika seseorang mengingat mati dalam shalatnya, maka ia akan memperbagus shalatnya. Shalatlah seperti shalat orang yang tidak menyangka bahwa ia masih punya kesempatan melakukan shalat yang lainnya. Hati-hatilah dengan perkara yang kelak malah engkau meminta udzur (meralatnya) (karena tidak bisa memenuhinya).” (HR. Ad Dailami dalam musnad Al Firdaus. Hadits ini hasan sebagaimana kata Syaikh Al Albani)

[3] Mengingat kematian menjadikan seseorang semakin mempersiapkan diri untuk berjumpa dengan Allah. Karena barangsiapa mengetahui bahwa ia akan menjadi mayit kelak, ia pasti akan berjumpa dengan Allah. Jika tahu bahwa ia akan berjumpa Allah kelak padahal ia akan ditanya tentang amalnya didunia, maka ia pasti akan mempersiapkan jawaban.

[4] Mengingat kematian akan membuat seseorang memperbaiki hidupnya. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

أكثروا ذكر هَاذِمِ اللَّذَّاتِ فإنه ما ذكره أحد فى ضيق من العيش إلا وسعه عليه ولا فى سعة إلا ضيقه عليه

“Perbanyaklah banyak mengingat pemutus kelezatan (yaitu kematian) karena jika seseorang mengingatnya saat kehidupannya sempit, maka ia akan merasa lapang dan jika seseorang mengingatnya saat kehiupannya lapang, maka ia tidak akan tertipu dengan dunia (sehingga lalai akan akhirat).” (HR. Ibnu Hibban dan Al Baihaqi, dinyatakan hasan oleh Syaikh Al Albani).

[5] Mengingat kematian membuat kita tidak berlaku zholim. Allah Ta’ala berfirman,

أَلَا يَظُنُّ أُولَئِكَ أَنَّهُمْ مَبْعُوثُونَ

“Tidaklah orang-orang itu menyangka, bahwa sesungguhnya mereka akan dibangkitkan.” (QS. Al Muthoffifin: 4). Ayat ini dimaksudkan untuk orang-orang yang berlaku zholim dengan berbuat curang ketika menakar. Seandainya mereka tahu bahwa besok ada hari berbangkit dan akan dihisab satu per satu, tentu mereka tidak akan berbuat zholim seperti itu.

■ Nasehat ulama ….

Abu Darda’ berkata, “Jika mengingat mati, maka anggaplah dirimu akan seperti orang-orang yang telah meninggalkanmu.”

■ Yang menakjubkan p**a dari Ar Robi’ bin Khutsaim …

Ia pernah menggali kubur di rumahnya. Jika dirinya dalam kotor (penuh dosa), ia bergegas memasuki lubang tersebut, berbaring dan berdiam di sana. Lalu ia membaca firman Allah Ta’ala,

رَبِّ ارْجِعُونِ لَعَلِّي أَعْمَلُ صَالِحًا فِيمَا تَرَكْتُ

“(Ketika datang kematian pada seseorang, lalu ia berkata): Ya Tuhanku kembalikanlah aku (ke dunia) agar aku berbuat amal yang saleh terhadap yang telah aku tinggalkan.” (QS. Al Mu’minuun: 99-100). Ia pun terus mengulanginya dan ia berkata pada dirinya, “Wahai Robi’, mungkinkah engkau kembali (jika telah mati)! Beramallah …”

➡ CC : rully
_____________

“Demi masa. Sungguh, manusia berada dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan kebajikan serta saling menasehati untuk kebenaran. (QS. Al Ashr: 1-3). Bagi yg ingin menyalurkan bantuan zakat, infaq, sedekah dan Jum'at berkah :
➡️ MNC Bank no.rek 206010007098941
➡️ DANA : 082290502735

📌 Silahkan simpan dan bagikan postingan ini sebagai pengingat dan bentuk amal jariyah berpartisipasi menyebar kebaikan 🙏

📝 AMAL jariyah

berat orang 󰦉 Sorotan

Address

Jalan Dirgantara No. 13
Makassar
90231

Telephone

+6282290502735

Website

Alerts

Be the first to know and let us send you an email when AMAL jariyah posts news and promotions. Your email address will not be used for any other purpose, and you can unsubscribe at any time.

Contact The Business

Send a message to AMAL jariyah:

Shortcuts

Share