19/03/2019
Satu hari di Amerika Serikat pada 1956, suasana yang semula akrab dan bersahabat mendadak menjadi tegang. Presiden Sukarno sedang di Hollywood, ditemani oleh beberapa selebritas ternama negeri Paman Sam. Salah satunya adalah Jeans Simmons, aktris cantik yang sangat terkenal kala itu.
Barangkali bermaksud mengakrabkan diri dengan sang tamu agung dan terhormat yang didampinginya itu, Simmons mengungkapkan keinginan berkunjung ke Jakarta suatu saat nanti. “Nanti di Jakarta saya ingin naik becak,” selorohnya, dikutip dari buku Kasino Bernama Kepulauan Seribu (2007:191) karya Alwi Shahab.
Tanpa diduga, Sukarno ternyata tidak berkenan dengan ucapan Simmons. Ia marah dan menghardik artis berkebangsaan Inggris itu. Bekerja menarik becak, tukas B**g Karno, tidak pantas dibanggakan, apalagi dijadikan ikon Jakarta sebagai ibu kota Indonesia. Baginya, profesi sebagai tukang becak adalah bentuk nyata dari “penghisapan manusia oleh manusia lainnya”.
Perkara penarik becak yang dianggap sebagai pekerjaan yang tidak manusiawi itu kembali disinggung Sukarno ketika menjamu Duta Besar AS untuk Indonesia, Howard P. Jones, sepulangnya ke Jakarta. “Dalam menuju masyarakat yang adil dan makmur tidak boleh lagi ada penghisapan manusia oleh manusia,” tegas presiden (Shahab, 2007:192).