KWITANG14

KWITANG14 Ruang baca salero rakjat. Tidak mengandung babi, apalagi nabi. Koleksi bacaan budaya visual, siap dijumpai mulai Maret 2017.

KWITANG14 merupakan ruang baca dan belajar bersama, untuk menjalin ikatan pertemanan dan pertukaran pengetahuan yang tak saling mem-babi-kan dan me-nabi-kan. KWITANG14 berfokus pada bahasan film dan budaya visual, termasuk bidang-bidang yang dipengaruhi dan mempengaruhinya, meliputi seni, sosial, politik, ekonomi, hingga media.

Identitas warga keturunan Tionghoa di Indonesia merupakan ladang pertarungan makna yang sarat kepentingan politis. Rezim...
06/05/2018

Identitas warga keturunan Tionghoa di Indonesia merupakan ladang pertarungan makna yang sarat kepentingan politis. Rezim Orde Baru secara sistematis mengkonstruksinya melalui upaya marginalisasi, diskriminasi, dan stigmatisasi. Secara resmi, rezim Orde Baru mengesahkan sejumlah peraturan dengan tujuan untuk mengontrol keberadaan warga keturunan Tionghoa, salah satunya Instruksi Presidium no 37 tahun 1967 tentang Kebijaksanaan Pokok Penyelesaian Masalah Cina, dan membentuk badan intelijen khusus bernama Badan Koordinasi Masalah Cina.

Ironisnya, perlakuan diskriminatif ini tidak berlaku bagi warga keturunan lain lain seperti Arab. Ironisnya lagi, berbagai keputusan diskriminatif itu diambil ketika rezim Orde Baru memakai banyak pengusaha Cina dalam program pembangunan ekonominya Dalam sejumlah pemberitaan media, rezim bahkan mengakui potensi kontribusi warga keturunan Tionghoa bagi sejumlah sektor kehidupan negara. Ambiguitas inilah yang rezim Orde Baru kelola untuk membentuk “perasaan selalu diawasi” di benak warga keturunan Tionghoa, untuk mengontrol kepatuhan mereka terhadap rezim.

Diskusi "Mendisiplinkan Tionghoa" di Ruang Baca KWITANG14 berlangsung seru dan hangat. Terimakasih untuk Roy Thaniago (Remotivi) yang sudah berbagi cerita dan wacana. Terimakasih untuk Jason Iskandar (“Langit Masih Gemuruh”) dan Ariani Darmawan (“Sugiharti Halim”) yang sudah berbagi film untuk ditayangkan sebagai pemantik diskusi. Terimakasih untuk kawan-kawan yang sudah berkunjung dan meramaikan acara ini. Sampai jumpa pada kegiatan-kegiatan seru lainnya di Ruang Baca KWITANG14!

Sudah ratusan tahun diskriminasi terhadap warga etnis Tionghoa terjadi di Indonesia. Semuanya berujung pada satu tuntuta...
02/05/2018

Sudah ratusan tahun diskriminasi terhadap warga etnis Tionghoa terjadi di Indonesia. Semuanya berujung pada satu tuntutan: kepatuhan. Warga peranakan Tionghoa, yang kerap distigmakan sebagai oportunis ekonomi, secara sistematis dituntut untuk menegaskan bahwa mereka tak ada hubungannya dengan Republik Rakyat Cina. Hanya dengan begitu mereka bisa dianggap sebagai bagian ‘sah’ dari warga nusantara.

Lintasan sejarah ini mengusik perhatian Roy Thaniago, pendiri dan direktur Remotivi—sebuah lembaga studi dan pemantauan media di Jakarta. Dalam tesisnya untuk Lund University di Swedia, ia meninjau ratusan artikel berita pada 1966, 1976, dan 1986 untuk memetakan wacana di media mengenai pembentukan identitas warga Tionghoa di Indonesia. Keharusan untuk berbaur merupakan wacana yang dominan disuarakan ke warga peranakan Tionghoa, sehingga kepatuhan itu sendiri tanpa sadar menjadi bagian dari kepribadian mereka. Penelitian ini menyimpulkan bahwa tatanan sosial-rasial diciptakan dan dipelihara bukan hanya karena faktor-faktor struktural seperti kestabilan ekonomi, tapi juga karena faktor-faktor kultural yang terungkap melalui bahasa sehari-hari.

KWITANG14 akan menayangkan dua film pendek pilihan, "Langit Masih Gemuruh" (2015) karya Jason Iskandar dan "Sugiharti Halim" (2008) karya Ariani Darmawan, sebagai pengantar presentasi Roy Thaniago dan pemantik diskusi.

Lokasi kegiatan di Ruang Baca KWITANG14, Jalan Kwitang Raya no 14, Senen, Jakarta Pusat (segedung dengan WATT Coffee). Tempat terbatas. Siapa cepat, dia dapat! 👶🏻

Dalam setiap detik film tontonanmu, dalam setiap kalimat ulasan film yang kamu baca, dalam setiap biji popcorn yang hend...
01/05/2018

Dalam setiap detik film tontonanmu, dalam setiap kalimat ulasan film yang kamu baca, dalam setiap biji popcorn yang hendak kamu santap, terangkum upaya serangkaian pekerja yang mendedikasikan waktu dan tenaganya.

Tanpa pekerja, apalah sinema. Tanpa sinema, apalah kita.

Selamat hari buruh!

Tak sulit untuk memahami film Di Dasar Segalanya. Kita dapat merasa relevan, sebab setidaknya kita pernah atau sering me...
22/04/2018

Tak sulit untuk memahami film Di Dasar Segalanya. Kita dapat merasa relevan, sebab setidaknya kita pernah atau sering mengalami depresi yang membuat kita terjatuh hingga ke paling dasar dari segalanya. Selanjutnya, pilihannya hanya dua: menikmati kesendirian di dasar sana atau mulai mendaki kembali.

Bagi teman-teman bipolar, siklus ini terjadi secara rutin, berkali-kali, dan tak dapat dihentikan (tapi dapat dikurangi). Terkadang siklus ini pun diperumit dengan nasihat-nasihat omong kosong dari lingkungan sekitar, seperti "Kamu tidak apa-apa. Hanya perlu berpikir positif". Sebab, bipolar merupakan kelainan produksi serotonin di otak yang hanya bisa dikurangi gejalanya dengan penanganan medis dan tentunya bantuan dari teman-teman yang suportif.

Jika kalian merasa uraian di atas sesuai dengan diri dan sering merasa manik-depresif, mintalah bantuan tenaga medis profesional. Jangan mendiagnosa diri sendiri. Apalagi menjadi pembetulan atas prilaku yang menjengkelkan.

Jika kalian memiliki teman yang mengalami bipolar atau kelainan mental lain, jangan sesaki pikiran mereka dengan nasihat omong kosong, beritahu mereka "Your brain is lying to you. You are not wortless/ugly/(insert bad adjective here)". Ajak temanmu nongkrong sambil ngalor ngidul bersama~~

Begitulah kira-kira catatan pemutaran dan diskusi santai kemarin malam. Terima kasih Paul Agusta dan teman-teman telah bersedia hadir untuk berdiskusi bersama dalam penayangan film Di Dasar Segalanya di Ruang Baca KWITANG14. Sampai jumpa di Nonton DiKwit selanjutnya!!!! 🌓

Masih banyak film yang menempatkan perempuan dalam tema-tema percintaan dan rumah tangga yang feminin. Tema ini masih di...
28/02/2018

Masih banyak film yang menempatkan perempuan dalam tema-tema percintaan dan rumah tangga yang feminin. Tema ini masih digunakan dalam banyak film dengan jangkauan penonton yang lebih besar, akan tetapi film-film pendek menunjukkan kompleksitas peran perempuan, utamanya istri, dalam ranah domestik. Pertanyaannya adalah, apakah di zaman modern seperti sekarang tugas istri tetap berkutat di dapur, sumur, dan kasur?

Pada pemutaran kali ini kami berkolaborasi dengan , Sebuah ruang diskusi digital yang membaca film pendek dari seluruh dunia dengan berbagai konteks dan wacananya.

Sabtu, 3 Maret 2018, pukul 19.00-21.00 WIB
Kwitang14 - Jl. Kwitang Raya no. 14, Senen, Jakarta Pusat (satu area dengan Watt Coffee)

Hari Kasih Sayang atau Valentine seringkali menjadi momen untuk menunjukkan sisi romantis. Memberi rangkaian bunga adala...
07/02/2018

Hari Kasih Sayang atau Valentine seringkali menjadi momen untuk menunjukkan sisi romantis. Memberi rangkaian bunga adalah salah satu cara yang dilakukan. Momen Valentine yang jatuh di Februari ini menginspirasi kami untuk berkolaborasi dengan Ikatan Pengarang Bunga Indonesia (IPBI) dalam membuat kelas merangkai bunga.

Sabtu, 10 Februari 2018
15.00 WIB
Kwitang14 - Jl. Kwitang Raya no. 14, Senen, Jakarta Pusat

Donasi: 50k Rupiah
Pendaftaran: http://bit.ly/kelaskelesfebruari2018

Film-film Indonesia berlatar kemiskinan seringkali menempatkan masyarakat kelas bawah seakan membutuhkan belas kasihan m...
31/01/2018

Film-film Indonesia berlatar kemiskinan seringkali menempatkan masyarakat kelas bawah seakan membutuhkan belas kasihan masyarakat yang lebih mapan. Film “Turah” menawarkan pandangan lain terkait kemiskinan ini dengan membahas kemiskinan karena ketergantungan ekonomi. Adrian Jonathan, yang akrab mengkritisi film, akan menguraikan kebiasaan-kebiasaan film Indonesia dalam latar kemiskinan serta bagaimana “Turah” bisa memberikan pandangan lain soal kemiskinan tersebut.

Kegiatan ini berlangsung pada Sabtu, 3 Februari 2018, pukul 19.00-21.30 WIB.

Lokasi kegiatan di ruang baca KWITANG14 (satu gedung dengan WATT Coffee), Jalan Kwitang Raya no. 14, Senen, Jakarta Pusat.

Kegiatan ini gratis alias tidak dipungut biaya.

Zaman sekarang lumrah sekali melihat film-film hasil adaptasi novel merajai tangga penjualan tiket bioskop. Konon lebih ...
30/10/2017

Zaman sekarang lumrah sekali melihat film-film hasil adaptasi novel merajai tangga penjualan tiket bioskop. Konon lebih dari 80% produk film di dunia adalah hasil adaptasi literatur. Asumsi yang dipegang sineas: massa penggemar novel aslinya akan berganti baju jadi penonton film adaptasinya.

Tentunya, realita ekonomi tidaklah selurus itu. Tentunya juga fenomena adaptasi novel-ke-film bukanlah perkara baru, terlebih lagi di film Indonesia. Buku karya Chris Woodrich ini melacak sejarah adaptasi novel-ke-film pada zaman Hindia Belanda, mulai dari Eulis Atjih (1927) hingga Siti Noerbaja (1941), yang dibahasakan sebagai “periode ekranisasi awal” dalam sejarah perfilman nusantara. Tinjauan merentang dari isi film, pelaku produksi, hingga kondisi sosial-politik yang menaungi kegiatan produksi film pada masa itu. Sumbangan terbesar buku ini adalah potret perfilman di Indonesia pra-kemerdekaan, yang seringkali diabaikan karena dianggap “bukan Indonesia” atau “belum Indonesia”, ketika nyatanya pada masa itu gagasan dan identitas ke-Indonesia-an banyak dibentuk melalui produk-produk budaya populer. Salah satunya melalui film.

Buku ini diterbitkan dan dijual olah Gadjah Mada University Press (ugmpress.ugm.ac.id). Pastinya, buku ini bisa diakses di koleksi ruang baca KWITANG14.

Di Indonesia, festival film belum lumrah diperlakukan sebagai objek studi yang serius. Kalaupun ada, fokusnya lebih pada...
01/10/2017

Di Indonesia, festival film belum lumrah diperlakukan sebagai objek studi yang serius. Kalaupun ada, fokusnya lebih pada seleksi filmnya, belum pada jaringan kerja dan semesta manusia yang terkait dengannya. Padahal kita semua tahu bahwa festival takkan ada artinya tanpa panitia dan penonton.

Buku ini bisa jadi bacaan yang menarik. Sepanjang 280an halaman, buku ini mencatat perjalanan Rosihan Anwar, seorang penulis dan jurnalis ternama, mengalami sejumlah festival film dari 1981 hingga 1994. Sampelnya beragam: dari Berlin, Cannes, Tokyo, Seoul, hingga Kuala Lumpur. Terekam berbagai cerita: dari tingkah laku penonton, aturan dresscode yang mengada-ada, panitia hilang-hilangan, politik penjurian, tawar-tawaran di pasar film, perseteruan delegasi antarnegara, kenorakan karpet merah, dan sebagainya.

Buku ini bisa diakses di koleksi ruang baca KWITANG14.

Ruang baca KWITANG14 mengajak kawankawan untuk berpartisipasi dalam mengelola isi dan kegiatan di ruang baca bersama kam...
16/09/2017

Ruang baca KWITANG14 mengajak kawankawan untuk berpartisipasi dalam mengelola isi dan kegiatan di ruang baca bersama kami. Pengelola akan mendapat akses ke koleksi buku dan film yang kami miliki. Apabila berminat, sila mendaftar di bit.ly/relawankwitang14

BESOK DI KWITANG14Menonton film merupakan salah satu aktivitas yang dilakukan oleh anak-anak. Film menjadi media hiburan...
22/07/2017

BESOK DI KWITANG14

Menonton film merupakan salah satu aktivitas yang dilakukan oleh anak-anak. Film menjadi media hiburan bagi anak-anak. Namun, film sebagai sebuah media tidak hanya mampu menghibur, melainkan juga menanamkan nilai-nilai yang tersirat maupun tersurat bagi anak-anak yang menyaksikan. Apalagi, anak-anak adalah peniru yang handal.

Banyak film yang menempatkan anak-anak sebagai sasarannya dan menyebutnya sebagai film anak. Namun, seringkali isi yang ditampilkan oleh film yang dilabeli film anak tersebut ternyata jauh dari dunia anak-anak. Contoh yang paling sering, “film-film anak” tersebut hanya menggunakan tokoh anak-anak untuk menceritakan permasalahan orang dewasa. Pada akhirnya film-film ini bisa berdampak pada mental dan perilaku anak untuk mengikuti apa yang dilakukan dalam film.

Kami mengundang Sinedu.id, sebuah lembaga yang menggunakan film sebagai media belajar bagi keluarga dan sekolah, untuk membantu menguraikan apa yang perlu dilakukan ketika menonton bersama anak. Salah satu film yang difavoritkan Sinedu.id, “Cita-Citaku Setinggi Tanah” akan menjadi film pemantik diskusi.

AGENDA PROGRAM
1. Pemutaran Film “Cita-Citaku Setinggi Tanah”
2. Diskusi santai “Apa yang harus dilakukan saat menonton film dengan anak?” bersama Sinedu.id – Diskusi ini membahas tentang apa saja yang perlu dilakukan orang dewasa ketika mendampingi anak-anak menonton film.

Sabtu ini di KWITANG14!HOW TO TRAVEL WISELY IN INDONESIAMengungkap cara bepergian secara bertanggung jawab di Indonesia....
05/07/2017

Sabtu ini di KWITANG14!

HOW TO TRAVEL WISELY IN INDONESIA
Mengungkap cara bepergian secara bertanggung jawab di Indonesia. Bertanggung jawab baik secara individual maupun sosial. Bebagai cara menikmati kunjungan ke ribuan destinasi dan ratusan suku bangsa yang ada di Zamrud Khatulistiwa.

Kamu akan tahu:
- Cara hemat bepergian di Indonesia
- Cara menentukan waktu (yang efektif) untuk bepergian di Indonesia
- Mengunjungi banyak destinasi wisata di Indonesia dalam waktu singkat
- Manajemen barang bawaan untuk berwisata di Indonesia

PROFIL PEMATERI
Kelik Sumarahadi, akrab dipanggil Suryo, adalah operator profesional perjalanan wisata minat khusus (masyarakat adat dan destinasi off-grid). menyukai bertemu orang baru, membaca buku dan diskusi mengenai budaya dan tradisi. Mendaki gunung adalah kegiatan favoritnya untuk mengisi waktu luang. Suryo jugalah manajer program Plesir di Spektakel.

Address

Jalan Kwitang Raya No. 14, Senen
Jakarta
10420

Opening Hours

Friday 12:00 - 18:00
Saturday 12:00 - 18:00
Sunday 12:00 - 18:00

Telephone

6281804560809

Alerts

Be the first to know and let us send you an email when KWITANG14 posts news and promotions. Your email address will not be used for any other purpose, and you can unsubscribe at any time.

Contact The Business

Send a message to KWITANG14:

Share