Kineruku

Kineruku Kineruku is a cozy library open for public, where people can read book while enjoying their meals and drinks.

Kineruku is a private library open for public, located in Bandung, Indonesia. Established in 2003, it started with 400 books from the founders' private collection. After 13 years, Kineruku has now more than 6,000 collection of books, CDs, DVDs, laserdiscs, VHS, and vinyl records. Kineruku's former name was 'Rumah Buku' or 'House of Books', and that's how the philosophy goes: a library that feels l

ike home. With that particular concept, the founders chose an old family house surrounded by beautiful gardens, a homey vintage building with comfortable chairs where people can relax while reading, listening to the music, or watching movies. Visitors can also order homemade food and beverages from
Kineruku's own cafe.

  ・・・Kami meracik blend sendiri untuk minuman iced cappuccino ini, gabungan dari biji kopi Mayangsunda, Kerinci Kayo, da...
08/12/2018


・・・
Kami meracik blend sendiri untuk minuman iced cappuccino ini, gabungan dari biji kopi Mayangsunda, Kerinci Kayo, dan Robusta Kintamani. Kalian bisa menemukannya di samping kasir Kineruku dengan nama Winterson Blend. Siapa tau kalian tertarik mencobanya untuk ngopi di rumah sendiri atau perlu biji baru untuk kafe Anda.
-
Cobalah datang siang-siang dan duduk menghadap taman, barangkali Anda senang paduan iced cappuccino dan bunga mekar di taman kecil kami.

Mari bergabung dengan keseruan hari ini di   💫
25/11/2018

Mari bergabung dengan keseruan hari ini di 💫

Nasi ayam lada hitam  , untuk pengalaman hari Minggu tak terlupakan 😊
04/11/2018

Nasi ayam lada hitam , untuk pengalaman hari Minggu tak terlupakan 😊

“Every face, every shop, bedroom window, public-house, and dark square is a picture feverishly turned--in search of what...
22/10/2018

“Every face, every shop, bedroom window, public-house, and dark square is a picture feverishly turned--in search of what? It is the same with books. What do we seek through millions of pages?”

― Virginia Woolf, Jacob's Room

  -yang namanya diambil dari penulis Inggris, Jeannete Winterson- terbuat dari biji kopi arabika dan robusta nusantara p...
08/10/2018

-yang namanya diambil dari penulis Inggris, Jeannete Winterson- terbuat dari biji kopi arabika dan robusta nusantara pilihan, cocok untuk penggemar dengan ketebalan rasa medium. Di kami menggunakan blend ini untuk menu dan .

“Sejak pertama kali buka, Kineruku sudah menyajikan kopi. Mulai dari kopi tubruk, kopi Vietnam, sampai Turkish Coffee. A...
16/08/2018

“Sejak pertama kali buka, Kineruku sudah menyajikan kopi. Mulai dari kopi tubruk, kopi Vietnam, sampai Turkish Coffee. Awalnya kami pakai racikan kopi yang bisa dijumpai di supermarket atau gerai-gerai kopi, lama-lama muncul juga keinginan menyajikan kopi dengan cita rasa yang khas Kineruku..” kata Ariani, ibu rumah tangga Kineruku.
_
"Saya lalu berkenalan dengan berbagai macam biji kopi. Di Indonesia ‘kan banyak ragam biji kopi yang karakternya seru-seru. Saya mulai belajar menyangrai biji kopi sendiri. Caranya macem-macem dan masing-masing menghasilkan cita rasa berbeda, tergantung metode dan tingkat kematangan. Awalnya tentu sering gagal. Biji kopi terlalu gosong misalnya, rasanya cuman jadi pahit doang. Atau kalau biji kopi nggak cukup mengembang, rasanya kadang mirip rumput atau kacang setengah matang.” 😊
_
“Saya belajar dari video-video tutorial di internet, juga dari forum-forum para pengguna mesin sangrai. Pelan-pelan saya menemukan cara menyangrai kopi yang hasilnya memuaskan selera saya. Setelah pede, saya bagi ilmunya ke Defi dan Mar di dapur Kineruku, dan mulai menyajikannya. Itulah awalnya . Dan beberapa waktu lalu, kami sama-sama membuat menu Es Kopiruku.”
_
“Es Kopiruku menggunakan racikan kopi arabika dari beberapa daerah di Indonesia. Manisnya dari gula aren. Dan dibiarkan ada sedikit ampasnya. Kita ‘kan akrab dengan kopi tubruk yang berampas. Rasanya gimana ya, tiap orang memang punya standar lidah masing-masing, tapi buat saya ini rasanya... segar, familiar, bersahaja?” 😄
_

Di buku On Photography (1977) Susan Sontag menulis, "Photographs are a way of imprisoning reality. One can't possess rea...
12/08/2018

Di buku On Photography (1977) Susan Sontag menulis, "Photographs are a way of imprisoning reality. One can't possess reality, one can possess images."
_
Sulit disangkal, kegiatan mengamati foto kerap memunculkan cerita-cerita dalam benak kita. Misalnya, kita bisa keseringan melihat akun Instagram orang yang dianggap menarik untuk menyelidiki bagaimana sifatnya. Sebagian kita senang membuka-buka album foto keluarga dari masa terdahulu karena ingin mengenali sosok keluarga kita sebelum menjadi keluarga. Kita kerap dengan mudah menganggap foto yang termuat di surat kabar sebagai kebenaran. Sementara di galeri, foto dipamerkan dalam berbagai format untuk memberi kesan lebih beragam lagi.
_
Teknologi sekarang kian memudahkan proses membuat dan mengedit foto. Kini banyak orang menggunakan fotografi untuk menangkap perasaan yang lebih sulit dibagi daripada kekaguman dan kebahagiaan. Banyak fotografer menggunakan media buku—buku foto—untuk membangun narasi yang diinginkannya. Para pembuat buku foto berpeluang bereksperimen tak hanya dalam konten tapi juga teknis produksi.
_
Berikut ini beberapa buku foto dengan kualitas produksi unik yang tersedia dan bisa dibeli di :
_
GODDESS OF PANTURA - Arum Tresnaningtyas Dayuputri, Rp170.000
_
COMING HOME - Tandia B. Permadi (Unobtainium), Rp400.000
_
FLOCK Volume 01 – Aji Susanto Anom, Arif Furqan, Kurniadi Widodo, Rp180.000
_
KLIK - Muhammad Rohmani (Kamboja Press), Rp100.000
_
AROUND THE CORNER Vol. 2 - Andrea Reza (Binatang Press), Rp70.000
_
IN TRANSIT: 23 - Francisca Angela (Kamboja Press), Rp120.000
_
Buku Coming Home karya Tandia B. Permadi masuk ke dalam shortlist Author Book Award di Les Rencontres d'Arles 2018. Gelaran , yang menyebut dirinya the first international festival of photography, akan diselenggarakan untuk ke-49 kalinya pada 2 Juli-23 September 2018.
_
Bisa dibeli langsung di , Jl. Hegarmanah 52, • atau DM ke IG • via web: kineruku.com/store • via email: [email protected]
_
@ Kineruku

Dulu di Jerman hidup seorang anak yang belum bisa membaca bernama Gerhard. Ayahnya tukang bersih-bersih di percetakan ko...
10/08/2018

Dulu di Jerman hidup seorang anak yang belum bisa membaca bernama Gerhard. Ayahnya tukang bersih-bersih di percetakan koran, dan nyaris tak ada buku di rumah mereka. Gerhard sangat senang ketika suatu hari ayahnya memberikan buku Thumbelina karya Hans Christian Andersen sebagai kado Natal. Gerhard buru-buru minta kakak perempuannya membacakan buku itu keras-keras. Gerhard lalu menghampiri ayahnya, mengungkapkan betapa dia menyukai kado itu. Ayahnya malah marah dan memukul kakak perempuannya. Rupanya ayah Gerhard mengira buku langsung kehilangan artinya seusai dibaca sekali. Membeli buku Thumbelina itu ternyata adalah kunjungan pertama ayah Gerhard ke toko buku.
_
Sekarang Gerhard Steidl memiliki penerbitan dan percetakan terkemuka. Nama Steidl identik dengan buku berkualitas produksi tinggi. Dia menggunakan bahan dan teknik produksi yang sulit disamai sesamanya. Steidl menerbitkan buku karya fotografer William Eggleston, Robert Frank, desainer Karl Lagerfeld, hingga karya fiksi Günter Grass.
_
Dulu, ongkos produksi buku jauh lebih mahal daripada sekarang. Banyak tangan yang terlibat dalam proses produksinya. Sebelum diterbitkan, konten buku diedit, disusun, diperiksa, dan proses itu terus berulang sampai sebuah buku dinyatakan layak terbit. Sekarang semakin mudah dan murah untuk menerbitkan buku. Banyak pihak menerbitkan sendiri bukunya dengan kualitas beragam. Informasi juga diakses dengan mudah dan murah dari sumber selain buku. Konten yang dulu hanya terbit dalam kertas, sekarang juga terbit secara elektronik. Di sisi lain, banyak pembaca yang tak rela kehilangan buku kertas. Mereka menghargai sensasi yang muncul ketika seseorang menyentuh kertas, mencium aroma tinta maupun kertas yang menua. Penerbit pun tergerak membuat buku yang memuaskan indera pembaca.
_
Namun, kalau buku hanya untuk disentuh, dicium, maupun dikagumi penampilannya, jangan-jangan dia sudah kehilangan nilai terpentingnya, yang pernah mendorong seorang anak memutuskan jadi pembuat buku. Jangan-jangan nilai buku kini nyata ketika dia dimiliki, bukannya dibaca.
_
Saat si Kecil dewasa, apakah dia masih akan membaca buku?
_

STAFF PICKS (Dika): Saya pernah gelagapan saat ada pengunjung perpustakaan menanyakan buku apa yang cocok dibaca anak mu...
25/07/2018

STAFF PICKS (Dika): Saya pernah gelagapan saat ada pengunjung perpustakaan menanyakan buku apa yang cocok dibaca anak muda seperti dirinya. Bagaimana menjawabnya? Apa saya harus sarankan buku-buku kesukaan saya? (Saya masih muda! Kelahiran akhir dekade 1980an!) Atau menyarankan buku yang saya kira akan dinikmati anak lebih muda beberapa tahun daripada saya? Saya lantas merekomendasikan Dilan karya Pidi Baiq. Namun pengunjung itu bergeming. Saya lalu mengaku buku paling berkesan yang baru saya baca adalah buku puisi Non-Spesifik karya Gratiagusti Chananya Rompas. "Saya jadi kepikiran apa yang dirasakan, tapi nggak pernah dikatakan ibu saya," kata saya tentang buku itu. Pengunjung itu bengong lantas berlalu tanpa memilih buku apa-apa. Mungkin saya memang bukan anak muda lagi. Berupaya memahami, menempatkan diri di posisi orangtua, kini jadi hal menarik bagi saya.
_
Beberapa hari lalu saya membaca kumpulan cerpen TIDAK (Putu Wijaya, Pabelan Jayakarta, 1999). Saya terhibur sekali, bisa dibilang Putu Wijaya kebalikan dari saya. Meski terlahir sebelum hari kemerdekaan Indonesia, Putu luwes menempatkan diri di posisi anak muda di dalam ceritanya. Kebeliaan tokoh-tokoh yang ditulis Putu terasa nyata tak sekadar dari bahasa yang digunakan untuk bicara, maupun kesenangan makan di Wendy's dan nonton Jurassic Park; lebih penting lagi, anak-anak muda di cerita Putu tak menerima begitu saja apa yang telah ditentukan orang lain. Misalnya Tuty, menolak hadiah mobil dari ayahnya sebagai sogokan supaya dia mau bicara lagi kepada ibunya. Anak-anak muda itu juga tak berlagak jadi yang paling tahu, tapi terus mencari tahu. Sebagaimana Anna, yang mempertanyakan apa betul cinta cuma untuk dilakukan, tak perlu dikatakan. Karena sikap-sikap itulah anak muda bisa memetik pemahaman berbeda dari apa yang selama ini diajarkan ke mereka. Pada akhirnya, mereka mendapatkan kejutan menyenangkan yang tak cuma berlaku bagi diri mereka sendiri, tapi juga bagi orangtua mereka.
_
Setelah membaca TIDAK, saya geli saat kembali mengingat bagaimana si pengunjung perpustakaan tadi itu tidak menyentuh buku-buku yang saya rekomendasikan. Bagus. Namanya juga anak muda.
_
@ Kineruku

"Ada orang bertanya mengapa sastrawan kita belum ada yang mendapat hadiah internasional. Hadiah Nobel, misalnya. Kita ha...
18/07/2018

"Ada orang bertanya mengapa sastrawan kita belum ada yang mendapat hadiah internasional. Hadiah Nobel, misalnya. Kita haruslah tahu diri. Syarat untuk hadiah itu amat tinggi. Dan kita masih kekurangan makanan yang bergizi untuk mendapatkannya. Salah satu cara untuk meningkatkan mutu gizi itu ialah membaca dan menerjemahkan karya-karya sastra dunia sebanyak-banyaknya."
_
"Dalam kesusastraan, sejak pertengahan abad yang lalu Jepang menerjemahkan semua karya sastra besar dari seluruh penjuru dunia, sehingga beberapa tahun yang lalu seorang putranya berhasil mendapat Hadiah Nobel untuk kesusastraan."
_
"Jepang dari dahulu kala menyerap sastra luar ke dalam sastranya sendiri. Mula-mula dari sastra klasik Tiongkok, kemudian dari sastra Eropa di jaman Meiji selepas pertengahan abad ke-19 dan sekarang ini tidak ada satu karya sastra dunia di mana pun yang penting yang tiada segera diterjemahkan ke dalam bahasa Jepang demi untuk memperkaya khazanah sastra dan kebudayaannya, namun sastra Jepang tetap mempunyai ciri-ciri sendiri yang berakar pada watak bangsa itu."
_
(H.B. Jassin dalam pidatonya, Sastra Indonesia sebagai warga Sastra Dunia, ketika ketika mendapat anugerah gelar Doctor Honoris Causa oleh Universitas Indonesia, pada 1975.)
_
Berikut ini buku karya sastrawan Jepang yang telah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia serta bahasa Inggris yang dijual di :
_
PELAUT YANG TERNODA - Yukio Mishima (EA Books), Rp66.000
_
DELAPAN PEMANDANGAN DARI TOKYO - Osamu Dazai (Trubadur), Rp55.000
_
THE FACE OF ANOTHER: Wajah Lelaki Lain - Kobo Abe (Jalasutra), Rp51.000
_
TAHUN SPAGETI: Kumpulan Cerita Pendek Jepang - Haruki Murakami, dkk. (Basabasi), Rp80.000
_
MIMPI-MIMPI SEPULUH MALAM - Kumpulan Cerpen - Natsume Soseki (Trubadur), Rp38.000
_
BEAUTY AND SADNESS (Edisi Bahasa Indonesia) - Yasunari Kawabata (Immortal Publisher), Rp50.000
_
THE SEA AND POISON - Shusaku Endo (Tuttle), Rp50.000
_
WHEN I WHISTLE - Shusaku Endo (Tuttle), Rp60.000
_
Bisa dibeli langsung di , Jl. Hegarmanah 52, • atau via DM ke IG • atau via webstore: kineruku.com/store • atau email: [email protected]
_

Sore hari ini di   🌿
13/07/2018

Sore hari ini di 🌿

Address

Jalan Hegarmanah 52
Bandung
40141

Opening Hours

Monday 10:00 - 20:00
Wednesday 10:00 - 20:00
Thursday 10:00 - 20:00
Friday 10:00 - 20:00
Saturday 10:00 - 20:00
Sunday 11:00 - 18:00

Telephone

0222039615

Alerts

Be the first to know and let us send you an email when Kineruku posts news and promotions. Your email address will not be used for any other purpose, and you can unsubscribe at any time.

Contact The Business

Send a message to Kineruku:

Share